Berikut ini tulisan Ev. Anne Kartawijaya, pendiri Yayasan Eunike, Jakarta, dalam rangka peringatan 500 tahun reformasi (31 Okt 1517 – 31 Okt 2017).

 

Hari ini tepat 500 tahun, kita merayakan hari Reformasi.
Tanpa terasa sudah 500 tahun, kita menikmati karya Martin Luther pada 31 Oktober 1517.
Tanpa terasa sudah 500 tahun, kita mengecap buah manis dari darah kaum martir.
Tanpa terasa sudah 500 tahun, kita memiliki akses yang begitu bebas untuk membaca dan mengerti Firman Tuhan.

Namun, sedihnya…..
Setelah 500 tahun hari Reformasi, persentasi anak muda yang membuang Alkitab juga semakin tinggi.
Mengapa? Apakah karena gereja tidak menjalankan perannya?
Apakah gereja sekali lagi membutuhkan SURAT PERINGATAN keras seperti yang diberikan oleh KRISTUS melalui Yohanes kepada jemaat Efesus, Laodikia, Pergamus, Sardis dan Tiatira?
Apakah gereja harus diingatkan kembali bahwa kaki dian mereka bisa saja diangkat.
Berapa banyak gereja tutup? Berapa banyak gereja berubah jadi mall/cafe?
Berapa banyak pertikaian dan pertengkaran ada di dalam gereja?
Berapa banyak keluarga kristen tercerai berai, bertengkar dan bercerai?
Berapa banyak keluarga kristen memperlihatkan profil yang bukan seharusnya?
Berapa banyak orangtua Kristen masih menjalankan mandat: meneruskan Firman Tuhan kepada anak-anak, mengajarkannya berulang-ulang?

Harus kami akui, kesibukan pelayanan akhir-akhir ini membuat mezbah keluarga kami terbengkalai.
Pesan yang diberikan sebelum berangkat sekolah kepada anak remaja kami sebatas: jangan lupa saat teduh, jangan lupa berdoa, yuk doa sebentar.
Sedih hati ketika mengingat Alkitab berada di tumpukan paling bawah sementara di atasnya bertumpuk-tumpuk buku ilmu pengetahuan yang membentuk nalar anak muda semakin meragukan Tuhan.
Kemarin malam kami memulai lagi mezbah keluarga. Hanya membutuhkan sedikit “NIAT” dan ajakan (summon) untuk berkumpul dan membuka Firman.

Marilah di hari peringatan 500 tahun Reformasi, kita kembali menegakan SOLA SCRIPTURA dalam keluarga kita: Ambil lagi Alkitab, bacakan untuk anak-anak berulang-ulang, percakapkan isinya dalam segala keadaan, renungkan bagaimana menerapkannya dalam pergumulan keluarga kita masing-masing. Jangan puas dengan apa yang anda lakukan sekarang, teruslah memusatkan keluarga semakin dekat dengan Firman.

Marilah di hari peringatan 500 tahun Reformasi, kita kembali menegakan SOLA GRATIA dalam keluarga kita: menjalankan parenting bukan berdasarkan HUKUM, tapi berdasarkan ANUGERAH.

Marilah di hari peringatan 500 tahun Reformasi, kita kembali menegakan SOLA FIDE dalam keluarga kita: menghadapi segala pergumulan dalam keluarga bukan dengan rasa khawatir, takut , atau putus asa, tetapi dengan IMAN. Hanya dengan Iman kita memiliki pengharapan dan mampu mengasihi.

Marilah di hari peringatan 500 tahun Reformasi, kita kembali menegakan SOLUS CHRISTUS: bukan image diri kita sebagai orangtua yang kita ingin berikan pada anak, bukan juga image anak yang ingin kita perkuat, tetapi image KRISTUS. Bukan karena disiplin, kesalehan, trik metode, dan kepandaian kita dapat mengubah anak-anak, tetapi hanya karena Penebusan Kristus yang telah melepaskan dari ikatan dosa dan memampukan mereka hidup sesuai image PenciptaNya.

Marilah di hari peringatan 500 tahun Reformasi, kita kembali menegakan SOLI DEO GLORIA: mari menata kembali idealisme, cita-cita, dan ambisi kita. Bukan untuk kemuliaan diri kita, kehebatan nama keluarga kita, tapi semata-mata KEMULIAAN ALLAH. Sekalipun kita harus melaluinya dengan menghadapi kerapuhan diri kita, melalui berbagai macam kegagalan dan rasa malu.
Marilah kita mengisi rumah kita dengan berbagai pujian HANYA kepada Allah kita, apapun keadaan keluarga kita sekarang, karena Allah pantas mendapatkan pujian dan penyembahan. Bukan piala, ijazah, prestasi, ataupun baiknya anak-anak kita; bukan gaji, penghasilan, investasi, pelayanan, kesibukan, dan kepopuleran kita sebagai orangtua yang menjadi pusat penyembahan dan kemuliaan. Hanya Allah-SOLI DEO.

Marilah mengambil waktu hening sejenak untuk memeriksa diri kita apakah REFORMASI sudah terjadi terlebih dahulu di dalam hati kita, dalam keluarga kita? Karena sebelum itu terjadi, kita tidak mungkin dapat melakukan pelayanan dan misi Reformasi untuk 500 tahun ke depan.

Kiranya Tuhan Berbelas kasihan kepada kita, generasi sekarang dan yang akan datang.

(Anne Kartawijaya-Yayasan Eunike-31 Oktober 2017)

Generasi Penikmat Tetesan Darah Kaum Martir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: