(Oleh: Ev. Binsar)

Di dalam sebuah khotbahnya, Pdt. Benny Solihin menceritakan sebuah kisah nyata berikut ini. Di sebuah gereja besar, sejak Gembalanya yang begitu berkarisma meninggal dunia pada usia 70 tahun, maka gereja itu mengalami kemunduran, baik secara kuantitas maupun kualitas. Walaupun beberapa pendeta telah diundang untuk melayani di gereja besar itu, namun tidak ada seorang pun yang dapat menandingi reputasi pendeta (Gembala) yang telah tiada itu. Sampai suatu saat, gereja itu mendapatkan seorang Pendeta muda yang pada saat itu belum berumur 40 tahun.
Dia menggembalakan gereja itu. Dia seorang pendeta yang sangat energik, pandai berkhotbah, memiliki kemampuan pastoral dan kemampuan memimpin yang sangat baik, kaya dengan talenta, begitu luar biasa. Dan akhirnya, gereja yang tadinya sempat mengalami kemunduran ini, sekarang mengalami kemajuan yang pesat, bahkan lebih maju dari keadaan yang pernah dicapai oleh almarhum gembala sebelumnya.

Namun suatu hari, pendeta muda itu mengalami kecelakaan, karena mobil yang dikendarainya ditabrak oleh sebuah kereta api. Walaupun dia tidak meninggal dunia, tetapi kedua kaki pendeta itu harus diamputasi. Berbulan-bulan dia harus dirawat di rumah sakit, sebelum dia bisa berjalan dan melayani kembali dengan kedua kaki palsunya.
Betapa berat beban psikologis yang harus dia tanggung. Dari seorang yang dulunya penuh vitalitas, begitu energik, tetapi sekarang harus berjalan dengan menyeret-nyeret kedua kaki palsunya. Dulu dia seorang yang begitu kompeten, begitu aktif, dan siap menolong siapa saja, tetapi sekarang hidupnya banyak bergantung pada orang lain. Banyak hal yang dulu bisa dia kerjakan sendiri, tetapi sekarang dia tidak bisa kerjakan lagi.
Pergumulan batin ini begitu berat. Dia simpan sendiri, dan tidak ada seorangpun jemaat yang tahu, bahwa dia begitu terpukul dengan keadaan seperti ini.

Suatu hari, jemaat dikejutkan dengan berita bahwa bahwa pendeta muda ini telah mati bunuh diri. Dia meninggalkan sepucuk surat yang menceritakan penderitaan batin yang dialaminya, ketika hidupnya sekarang tidak seperti dulu lagi. Dia merasa hidupnya tidak berguna lagi, hanya menjadi objek belas kasihan orang lain.
Dia tidak bisa menerima sorot mata belas kasihan dari jemaat, karena kelemahan fisik dan kecacatan dirinya itu.

Mendengar kisah nyata ini, saya sadar pergumulan pendeta ini sangat tidak mudah. Saya mencoba berimajinasi, seandainya saya berada dalam posisi dirinya saat itu, sungguh tidak mudah, banyak “keterhilangan-keterhilangan” yang dialaminya. Dalam renungan ini, saya bukan berfokus untuk mengevaluasi mengenai keputusan akhir (bunuh diri) yang diambilnya. Saya sadar jiwa manusia sangat kompleks.
Namun, saya ingin menghubungkan keputusan akhir yang diambil Pendeta muda ini dengan penelitian seorang Sosiolog bernama Emile Durkheim (1858 – 1917), yang terkenal pernah melakukan pengkajian/penelitian tentang “mengapa seseorang melakukan bunuh diri”.
Dari penelitiannya itu, Emile Durkheim menyimpulkan, bahwa sebagian besar orang melakukan bunuh diri, karena “ketiadaan makna hidup dan kehilangan perasaan berharga di dalam hidup.”
Emile Durkheim mengatakan, “Perasaan berharga adalah dasar untuk bertahan hidup.”

Dimanakah letak keberhargaan diri kita?
Jika kita meletakkan keberhargaan diri kita pada materi/harta kebendaan yang kita punya (I am what I have”): saya adalah hartaku, saya adalah perusahaanku, saya adalah jabatanku, saya adalah kedudukanku, maka keberhargaan diri kita menjadi tidak menentu. Dalam arti, ketika harta kita banyak, kita merasa diri dan hidup kita berharga, tetapi pada saat harta kita berkurang, kita merasa diri dan hidup kita menjadi kurang berharga.
Karena harta benda dan jabatan dijadikan ukuran besar-kecilnya keberhargaan diri kita.

Jika keberhargaan diri kita ditentukan oleh kondisi kesehatan kita, maka ketika hidup ini sehat, kita merasa diri dan hidup kita berharga, tetapi sebaliknya, pada saat kita sakit-sakitan, kita merasa kurang berharga, karena merasa tidak produktif lagi dalam hidup ini.

Jika keberhargaan diri kita, semata-mata hanya ditentukan oleh prestasi-prestasi yang kita raih dalam hidup ini, performance, “I am what I achieve”, maka ketika kita mencapai prestasi yang gemilang dalam hidup ini, entah itu prestasi dalam studi, pekerjaan, karir, pelayanan, atau apapun juga, kita merasa diri kita berharga, tetapi ketika semua yang kita dambakan itu tidak terwujud, atau tidak kita miliki lagi, kita merasa diri kita kurang berharga. Namun, saya tidak mengatakan bahwa kita menjalani hidup ini “tidak perlu target”, tidak perlu rencana, tidak perlu kerja keras, mengalir apa adanya, tidak ada semangat juang dalam hidup, tidak perlu prestasi, karena kita pun sebagai orang Kristen dipanggil untuk “melakukan yang terbaik” (do the best) dalam hidup ini untuk kemuliaan Tuhan, dan Tuhan juga akan menuntut pertanggungjawaban atas segala talenta yang telah Dia percayakan dalam hidup kita (Matius 25:14-30).

Identitas diri kita adalah “di dalam Kristus” (in Christ), kita memiliki dan dimiliki oleh Yesus Kristus (Efesus 2:10). Kita adalah gambar Allah (Kejadian 1:26-27), dan kita adalah anak-anak Allah yang dikasihi-Nya (Yohanes 1:12-13).
Itulah dasar keberhargaan diri kita. Dasar keberhargaan diri kita bersifat internal, bukan “eksternal” (harta, kesehatan, jabatan, prestasi).
Saya mengutip pendapat Dr. Kenneth Boa dalam bukunya Conformed to His Image (2001) yang menyatakan, “Kita bukan bekerja untuk identitas kita, tetapi kita bekerja berasal dari identitas kita. Identitas diri kita ditentukan oleh Allah, bukan oleh pekerjaan kita.”
(We don’t work for our identity, but we work from our identity. Our identity is defined by God, not by our work).

Keliru sekali, jika kita melekatkan keberhargaan diri kita pada sesuatu yang bisa berubah-ubah dan tidak menentu, seperti harta, kekayaan, kesehatan, jabatan, kedudukan, karir, dan prestasi-prestasi kita.
Semua ini baik, tetapi semua itu adalah alat/sarana untuk kita bisa memuliakan Tuhan dan melayani sesama kita.

Oleh sebab itu, marilah kita mengggunakan harta, kesehatan, jabatan, kedudukan, dan prestasi-prestasi yang kita raih untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.

Tidak ada hidup yang lebih mulia dan berharga daripada hidup untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama, sebaliknya, tidak ada hidup yang lebih hina daripada hidup hanya untuk diri sendiri saja.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk melakukan kebenaran firman-Nya dalam hidup kita sehari-hari.🙏🏽🙏🏽

Dimanakah Letak Keberhargaan Diri Kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: